ja_mageia

Founded by
Nasyith Majidi and Awalil Rizky who served in a wide range of economy and business fields.more
JCI  1.191,358 -31,767 -2,60%  Top Value BUMI  850   175.425.680.000 -90  -9,57%  Top Vol BUMI  850   205.202.000 -90  -9,57%  Top Freq BUMI  850   5.257 -90  -9,57%  Top Gain +/- LION  3.200    225  7,56%  Top Gain +/-% MASA-W  15    5  50,00%  Top Lose +/- ITMG  8.550    -650  -7,07%  Top Lose +/-% CTRA-W  18    -5  -21,74%  Top Broker(Val) ZP  112.852.057.000  Top Broker (Vol) LG  101.121.000  Top Broker (Freq) PD  4.401  XAO  3.507,7  34,3  0,99%  NI225  7.863,6899  0  0,00%  COMP  2.955,0901  89,4102  3,12%  COMPX  1.449,8  51,7301  3,70%  HSI,X  13.405,8496  0  0,00%
Krisis Global Tekan Pertumbuhan Kredit Mikro dan UKM
Thursday, 18 June 2009 10:52
INN : Perkembangan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memprihatinkan. Kendati pemerintah menyatakan berpihak pada pengembangan ekonomi kecil dan mikro, namun realitanya pertumbuhan kredit MKM (mikro, kecil, menengah) dalam dua tahun terakhir lebih kecil ketimbang pertumbuhan kredit non MKM.  Dampak buruk krisis global terhadap perbankan ternyata juga amat terlihat pada perkembangan kredit MKM. Terlebih pada kredit mikro yang memburuk, baik dari aspek pertumbuhan maupun kualitasnya selama enam bulan terakhir.

”Selama dua tahun terakhir, penyaluran kredit MKM perbankan tumbuh lebih rendah dari kredit non MKM, sehingga pangsanya atas total kredit perbankan cenderung menurun,” papar Awalil Rizki, Direktur Eksekutif BRIGHT Indonesia, lembaga riset ekonomi yang bebrasis di Jakarta dalam publikasi Research Review Bright Indonesia edisi 25 Mei 2009.

Awalil menjelaskan, pangsa kredit MKM pada akhir tahun 2008 adalah 49,5% dari total kredit perbankan, turun dari 51,2% (2007) dan 51,85% (2006). Trends tersebut sejauh ini tidak berubah dengan adanya krisis keuangan global jika dampaknya dianggap mulai terjadi pada triwulan III-2008. Sebagai catatan, pangsa kredit MKM sempat menaik pada kurun waktu sebelumnya, yakni : 44,38% (2002), 48,07% (2003), 49,55% (2004), dan 52,03% (2005).

Nominal kredit mikro perbankan mengalami pertumbuhan yang cukup berarti selama beberapa tahun terakhir, tetapi lebih rendah daripada rata-rata kredit MKM, sehingga pangsanya cenderung mengalami penurunan. Pangsa kredit mikro dalam total kredit MKM adalah : 35,4% (2008), 38,6% (2007), dan 42,5% (2006). Trends ini masih tetap berlangsung selama enam bulan terakhir, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, pangsa kredit kecil melampaui kredit mikro.

Kualitas kredit MKM secara umum memang sedikit lebih baik daripada kredit non MKM, namun NPL kredit MKM juga cenderung mengalami peningkatan dalam enam bulan terakhir yang berarti dipengaruhi pula oleh dampak buruk krisis global. NPL kredit mikro bahkan lebih buruk dari yang lain, dan cenderung semakin memburuk. Sebagai contoh, NPL kredit mikro Bank Umum memburuk dari 3,73% (September 2008) menjadi 4,32% (Maret 2009).

Penggunaan kredit MKM lebih banyak untuk keperluan konsumtif, dengan kecenderungan yang terus meningkat. Pangsa kredit konsumsi terus mengalami peningkatan, dari 43,1% pada tahun 2002 menjadi 52,0% pada tahun 2008. Sebaliknya, pangsa kredit modal kerja turun dari 46,4% (2002) menjadi 39,5% (2008), dan kredit investasi turun dari 10,5% (2002) menjadi 8,5% (2008). Kecenderungan demikian lebih tampak pada perkembangan kredit mikro perbankan. Pangsa konusmsi kredit mikro terus tumbuh dari 72,5% (2006), 73,6% (2007) dan 74,2% (2008). Lebih rendahnya NPL untuk penggunaan konsumsi kemungkinan menjadi salah satu pertimbangan utama pihak perbankan dalam hal ini.

Alokasi kredit MKM masih sangat timpang jika dilihat dari lokasi proyek sampai dengan akhir 2008. Jawa dan Bali sebesar 65,9% sedangkan di luar Jawa dan Bali 34,1%. Kawasan Timur Indonesia menyerap 84,8% sedangkan Kawasan Barat Indonesia hanya menyerap 15,2%. 10 Propinsi terbesar menyerap 77,9%, sedangkan 23 propinsi lainnya hanya mendapat 22,1%.

Alokasi kredit MKM berdasar sektor ekonomi memiliki kecenderungan yang semakin berorientasi kepada jasa, terutama jasa perdagangan dan jasa dunia usaha lainnya. Pangsa alokasi kredit kepada industri justeru semakin mengecil. Bias perkotaan juga diindikasikan oleh rendah dan menurunnya pangsa alokasi bagi sektor pertanian. Sebagai contoh, pembiayaan untuk sektor pertanian, perburuan dan sarana pertanian justeru berangsurur menurun, yakni : 3,5 % (2006), 3,3% (2007) dan 3,2% (2008). Dan alokasi untuk perindustrian masih tergolong besar, namun pangsanya juga mengalami penurunan, yaitu : 8,6% (2006), 7,3% (2007) dan 7,0% (2008).

Kredit MKM dari BPR juga terindikasi bias perkotaan jika dilihat dari sektor ekonomi yang diberi kredit dimana pangsa sektor pertanian masih amat kecil. Klaim pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dianggap sukses masih memerlukan pencermatan lebih lanjut. Bisa dipertanyakan tentang mengapa alokasi kredit dari KUR tidak mampu menaikkan pangsa kredit MKM, khususnya kredit mikro seperti yang dibahas di atas. Tidak tertutup kemungkinan, sebagian cukup besar alokasi KUR adalah kepada para debitur yang sebelumnya sudah pernah mendapat akses kredit MKM.

”BRIGHT Indonesia menyarankan agar Bank Indonesia lebih bersungguh-sungguh merealisasikan komitmennya terhadap pengembangan kredit bagi UMKM. Direkomendasikan untuk meningkatkan bantuan yang bersifat lebih langsung dan nyata. Disarankan pula agar kerjasama dengan lembaga keuangan mikro diwujudkan dan ditingkatkan mengingat perbankan sejauh ini terbukti tidak mampu menangani kredit mikro secara baik dan efektif,”tutur Awalil Rizki.  

Sumber: INDONESIA NEWS NETWORK, 25 Mei 2009